Pelaminan Gebyok Modif Blok Daun

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Gebyok Kudus Bunga Penuh

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Model Sketsel

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Gebyok Modif Pilar

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Gebyok Modif Pilar

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Internasional Pilar Blok Daun

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Internasional Pilar Background Blok Daun

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Pelaminan Internasional Pilar Background Kain

This Blog Have been Suspend..for continue contact us at rumahhosting987@yahoo.com

Wednesday, April 30, 2014

Ketika Konflik dirubah Menjadi Cinta

Sangat banyak alasan bagi suami dan isteri untuk terus berkonflik. Mereka berasal dari tradisi keluarga yang berbeda, mereka memiliki kebiasaan, pemikiran, kesenangan, perasaan yang tidak sama. Bahkan sering dikatakan, planet asal merekapun berbeda. Yang satu dari Mars, satu lagi dari Venus. Jika setiap satu perbedaan memunculkan satu konflik, maka setiap hari mereka akan selalu berada dalam ketegangan situasi yang tidak produktif.

Kenyataan yang kita lihat dalam kehidupan rumah tangga, memang selalu ada konflik dengan segala tingkatannya. Tidak ada keluarga tanpa konflik, yang membedakan adalah cara mereka menikmati, mengelola dan keluar dari konflik tersebut. Dengan demikian, tidak perlu berlebihan dalam memandang terjadinya konflik. Justru yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengubah konflik menjadi cinta yang menyala dalam keluarga.

Tiga Tingkat Konflik
Konflik tidaklah terjadi secara tiba-tiba, namun ada proses dan tingkatannya. Secara teoritis, konflik terjadi dalam tiga tingkatan.
Tingkatan pertama adalah the unvisible conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini masih ada di batin atau perasaan. Ada beberapa ketidakcocokan antara suami dengan isteri, tetapi ketidakcocokan itu tidak tampak atau tidak muncul dalam ucapan, sikap, dan tindakan. Ini adalah sebentuk ketidaknyamanan hubungan yang tidak diekspresikan, namun lebih banyak dipendam dalam hati dan pikiran. Suami dan isteri sama-sama merasakan ada sesuatu yang mengganjal, namun tidak diungkapkan.
Tingkatan kedua adalah the perceived / experienced conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini sudah sama-sama diketahui, dialami atau sudah tampak di permukaan. Suami dan isteri sudah sama-sama mengalami perbedaan yang muncul dalam bentuk percekcokan, pertengkaran atau perlawanan. Pemicu konflik bisa jadi karena perbedaan pendapat antara suami dan isteri, perbedaan harapan, keinginan, atau karena adanya tindakan yang tidak menyenangkan. Konflik bisa terjadi dalam bentuk kalimat yang diucapkan atau sikap yang ditampakkan.

Tingkatan ketiga adalah the fighting. Pada tingkatan ini, konflik sudah berubah menjadi tindakan fisik, seperti pukulan, tendangan, tamparan, atau tindakan lain yang bersifat fisik. Menurut kamus, fighting adalah melawan orang lain dengan pukulan atau senjata (blow or weapon). Dalam kehidupan rumah tangga, banyak terjadi pertengkaran suami dan isteri yang melibatkan aktivitas fisik dan “senjata”, seperti menggunakan alat pemukul, memecah piring, melempar gelas, merusak perabotan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Memahami tingkatan konflik ini akan sangat membantu bagi suami dan isteri untuk bisa menentukan sikap yang tepat pada saat menghadapinya. Hendaknya suami dan isteri tidak membiarkan konflik berkembang dari tingkatan pertama menuju tingkatan kedua dan ketiga. Deteksi dini adanya konflik di tingkatan pertama sangat diperlukan agar bisa segera mencari jalan keluar dan tidak membiarkannya berlarut-larut atau berlama-lama.

Keluar di Tingkat Pertama
Saat suami dan isteri mulai merasakan ketegangan hubungan, sesungguhnya tanda-tandanya sangat banyak dan mudah dikenali. Misalnya komunikasi tidak lancar. Isteri tidak bisa atau tidak berani berbicara dengan suami. Takut menyinggung, takut dimarahi, takut tidak ditanggapi. Suami tidak nyaman berbicara dengan isteri. Takut tidak nyambung, takut salah paham, takut direspon dengan berlebihan. Akhirnya saling memilih untuk diam, namun memendam perasaan yang tidak nyaman.

Bisa juga suami dan isteri berada dalam suasana sensitif yang berlebihan. Kata-kata kecil yang diucapkan suami atau isteri, mudah memunculkan emosi dan kemarahan pasangan, walaupun tidak diekspresikan. Komunikasi sering tidak nyaman, karena mudah salah paham dan berlebihan memahami kalimat yang diucapkan pasangan. Seakan-akan pasangan tengah menyindir atau mengejek dirinya.

Inilah gejala suami dan isteri sudah memasuki gelanggang konflik pada tingkat yang pertama. Ada suasana tidak nyaman, suasana ketidakcocokan antara suami dan isteri, namun hanya dipendam di dalam hati. Tidak ditampakkan, tidak diekspresikan. Masing-masih memendam rasa yang tidak mengenakkan kepada pasangan.

Jika gejala konflik tingkat pertama ini sudah dirasakan, segeralah mencari jalan keluar. Jangan biarkan perasaan tidak nyaman kepada pasangan ini bercokol dan bertahan berlama-lama dalam jiwa. Itu akan sangat menyakitkan dan menyiksa hati serta perasaan. Bahkan dikhawatirkan lama-lama akan menggerogoti cinta yang sudah ditanam dalam dada. Segeralah keluar dari zona tidak nyaman ini, agar tidak membahayakan keharmonisan hubungan anda bersama pasangan tercinta.

Cari waktu dan suasana yang tepat. Ajak pasangan anda berbicara, dalam suasana jiwa yang bening, pikiran yang jernih dan hati yang tidak diliputi emosi. Sampaikan permintaan maaf anda kepada pasangan, karena menyimpan perasaan yang tidak nyaman kepadanya. Jika perasaan itu berupa praduga tertentu kepada pasangan, konfirmasikan hal itu kepadanya. Ingat, jangan menyalahkan pasangan. Obrolan ini hanyalah untuk menyalurkan ganjalan yang selama ini mengendap di hati. Bukan forum untuk menghakimi, atau saling menyalahkan di antara suami dan isteri.

Bahkan lebih bagus lagi jika menggunakan canda agar suasana lebih cair dan nyaman bagi semua. Ada banyak kelucuan yang selama ini disimpan dalam kehidupan berumah tangga, yang bisa diungkapkan agar suasana menjadi santai dan tidak tegang. Dalam kenyamanan suasana, saling tertawa, saling menampakkan canda, perlahan-lahan kebekuan hubungan akan tercairkan. Berbagai hal yang mengganjal bisa dikeluarkan dan disalurkan, sehingga hati tidak lagi menyimpan sesuatu yang mengganjal dan tidak mengenakkan dari pasangan.

Jangan biarkan konflik tahap pertama ini berkembang dalam jiwa, karena lama-lama akan meningkat menuju konflik tahap kedua dan ketiga, yang akan semakin sulit untuk menyelesaikannya. Mumpung belum membesar, mumpung belum terlanjur, segera keluar pada tahap pertama ini.
Selamat beraktivitas. Selamat menikmati cinta.












Cahyadi Takariawan


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/ketika-konflik-dirubah-menjadi-cinta.html'>http://ayonikah.net/ketika-konflik-dirubah-menjadi-cinta.html</a>

Promo Untuk Siraman Model Pergola dan Gazebo, Dapatkan Harga Spesial s/d 30 MEI 2014



-  Angkring
-  Karpet Janur
-  Dudukan & Gentong
-  Ubarampe 



Bertengkar Islami

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas saya dengan istri sering menikmati sa’at-sa’at bertengkar, sebagaimana lebih menikmati lagi sa’at sa’at tidak bertengkar :)

Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja
dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam
bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.


Baiklah, hari ini saya ingin paparkan resep keluarga kami dalam
melangsung kan sebuah pertengkaran, alhamdulillah telah saya jalani selama beberapa tahun, dan berhasil membangun keadaan yang senantiasa lebih asyik daripada sebelum terjadi pertengkaran.
Ketika saya dan si pencuri [hati saya] — eh enggak koq dia tidak curi
hati saya, malah saya kasikan dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus–awal
bertemu, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan
dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap, kami mulai
membicarakan seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan via tulisan plus waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata
dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …”
Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi
jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh
kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka
dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu …..”
Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”,
saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung
adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya
tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini
giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus
untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih
baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat
masa. Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab
masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan
terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita
perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di
antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya. (sampai hari ini, biaya
pernikahan saya masih harus terus saya cicil, sayangkan kalau di delete begitu saja…:)
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas
keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu
yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),
sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi
lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”,maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah …. OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat masa 13 tahun, tapi saya dengan ibu dan
bapak saya hampir dua kali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga
ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak
menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya
menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini
selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal
cinta yang panas ini”. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua !

4. Kalau marah jangan di depan anak anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian.
Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka
harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya
bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana
ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu
datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan
aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada,
emang saya ini kuda ????!!!!
Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda ….. terus
saya ini apa ?”
Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak
datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada
tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi
hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa
‘ibaadil-ahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba
hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah
salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya,
padahal nyawamu ditangan Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi
habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis
shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya …
Atau habis isya sebatas …. ???
Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang
tidak bertengkar … :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan
(Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi
sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar
hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.
Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita
menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”.
#Prayoga.net


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/bertengkar-islami.html'>http://ayonikah.net/bertengkar-islami.html</a>

Wednesday, April 23, 2014

Satu Hati Satu Cinta Untuk Istriku

Hidup adalah pembelajaran, di semua penggalan episode umur kita
Ini adalah salah satu bentuk Ke Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Rabb kita.
Tak pernah ada satupun ketidakadilan Allah disini.
Hanya mungkin jiwa kita yang kerdil dan sempit, memandang setiap masalah adalah beban Hingga membuat kita putus asa.
Salah satu fase pembelajaran itu adalah, ketika jejak usia kita memasuki masa berumah tangga.

Setelah akad nikah di deklarasikan, maka jiwa kita harus meniupkan kebaikan pada dirinya
Diri istri kita itu.

Satu tujuan itu semua agar kita menemukan KENYAMANAN dalam berumah tangga
Inilah maksud dari doa “Baarakallaahu laka, Wa baarakallaahu ‘alaika, Wa jama’a bainakuma fii khaiir…”
Kenyamanan. Itu rahasia jiwa yang diciptakan cinta: maka kita mampu bertahan memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh.

Cinta menciptakan kenyamanan yang bekerja menyerap semua emosi negatif masuk ke dalam serat-serat jiwa melalui himpitan peristiwa kehidupan. Luka-luka emosi yang kita alami di sepanjang jalan kehidupan ini hanya mungkin dirawat di sana: dalam jiwa cinta.

Maka harus ada CERIA
Karena ceria itu adalah penjabaran konkrit dari kenyamanan itu
Maka sebagai suami kita harus menjaga hati dengan setia dan selalu menyayanginya
Maka sebagai suami kita harus menjadi qowwam bagi dirinya, agar pesona sholeha istri kita tak pudar.
Dan proses semua itu, akan mampu berdiri dan utuh selamanya
Jika ditopang oleh jiwa-jiwa yang kuat
Pilar jiwa itu adalah
Dirimu dan istrimu…

Sementara anak-anak kita, adalah penyangga dua pilar itu
Karena hakikat cinta selamanya hanya satu: memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa. Melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika kita terus menerus memberi maka kita akan terus menerus menerima. Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Seperti pohon: pada mulanya ia menyerap matahari dan air, untuk kemudian mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya: buahnya keindahan.

Dalam jiwa yang penuh cinta itu kita menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh.
Hidup adalah pembelajaran
Maka ketika kita memasuki fase berumah tangga
Kita harus menemukan keselarasan jiwa terlebih dahulu, dengan istri kita
Agar ketika mengarungi kehidupan rumah tangga
Kita menjadi kompak
Satu hati
Satu cinta…..

Sebab ketika masalah datang
Kita tak boleh sendiri sendiri menyelesaikan masalah itu
Kedua pilar jiwa itu
Jiwa suami istri, harus bersama menghadapi badai dan topan di laut kehidupan itu.
Maka Islam memberikan panduan, bagi seorang suami untuk menyamakan frekewensi jiwanya dengan istrinya…

Agar SATU CINTA
Agar selamanya Istri kita itu satu-satunyan yang kita cintai
Tak tergantikan.
Panduan itu adalah doa
Maka biarkanlah sirah nabawi mengajarkan kita semua tentang doa itu
Pada rasulullah saw dan bunda khadijah kita belajar
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu kebaikan perempuan ini dan semua kebaikan yang tercipta bersama penciptanya.”

Itulah indahnya doa Rasulullah di malam pertama
Saat meletakkan janji kesetiaan nan abadi
Ketika tangan beliau diletakkan di atas ubun-ubun kepala Khadijah
Maka kita melihat
Adakah cinta seagung cinta Bunda Khadijah
Kemesraan terpancar dari aura batinnya
Tak letih mendukung perjuangan rasulullah saw
Karena Jiwa Rasulullah saw dan Bund Khadijah telah selaras

SATU CINTA
Doa ini lah yang harus kita ucapkan
Oleh setiap suami
Di setiap saat
Di setiap waktu
Agar SATU CINTA itu
Mengejewantah pada diri kita dan istri kita
Selamanya…….


 
 
Baca klik <a href='http://ayonikah.net/satu-hati-satu-cinta-untuk-istriku.html'>http://ayonikah.net/satu-hati-satu-cinta-untuk-istriku.html</a>

Yakinlah Akan Pilihanmu jika memang Karena Allah

Tiba-tiba keluarga itu tercengang dengan keputusan Shasa, terbilang masih sepupu suamiku. Shasa, gadis ayu yang penurut, sungguh mengagetkan saat bersedia dengan tegar mengikuti tantangan sang Ayah, “Kalau engkau menikah dengan pria itu, maka engkau bukan lagi anakku!”, tegas Ayahnya.

Pria yang dimaksud adalah pacar Shasa, selama ia menjalani hari-hari sebagai pramugari cantik di sebuah maskapai penerbangan nusantara. Pria itu nonmuslim. Shasa sepertinya tak punya pandangan mata yang normal lagi, apalagi mata hati yang jernih, dengan membiarkan orang tua sakit hati, bahkan Ayahnya meninggal dunia tahun lalu saat semakin sakit-sakitan.
Padahal, sebelum diukur dengan “kadar imam dambaan wanita”, (maaf) secara fisik pun biasa saja, pria itu terhitung tidak ganteng malah, yang akhirnya sanak-keluarga mengisukan “ilmu hitam” yang dipakai si pria untuk menarik Shasa menjadi istrinya. (Naudzubillahi minzaliik)



Sekarang Shasa sudah tak lagi ramping, tubuhnya sama gendut dengan anaknya. Padahal baru beberapa tahun menikah, guratan penuaan dini sudah menjalar di wajahnya, kemungkinan besar adalah bersumber dari kegundahan nurani, karena dalam hukum Islam, murtad adalah termasuk dosa besar. Sehebat-hebatnya ia bersandiwara dengan senyum mesra seolah bahagia dengan agama barunya, pastilah hatinya menangisi pilihan fatal dalam hidupnya itu. Firman Allah SWT, “ Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka dia tidak akan diterima (agama itu) dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘imraan:85).
Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tabrani: “Barang siapa telah menikah, ia telah memelihara setengah bagian dari imannya, karena itu, hendaklah ia takwa (takut) kepada Allah dalam bagian yang lain.” Lantas bagaimana mungkin seorang wanita muslimah malah rela mengubah agamanya demi menikah dengan pria nonmuslim itu? Pikiran orang-orang normal biasanya, “apakah tidak menemukan lelaki muslim yang pantas ?”, dan Shasa punya pertimbangan lain, “kata cinta”, kemewahan atau alasan lainnya.

Berbeda dengan Kak Risa, yang pernah dilamar seorang teman kantornya, nonmuslim. Teman pria ini mengaku amat sangat mencintainya, dan bersedia menikah “beda agama”, di Singapura atau Belanda, sehingga baginya tak masalah jika Kak Risa tetap muslimah sedangkan ia tetap menganut agama yang dipeluknya. Alhamdulillah, Kak Risa teguh pendirian, orang tuanya telah menjelaskan bahwa pernikahan yang seperti itu adalah tidak sah di mata Allah SWT, tetap zina seumur hidup.

Sungguh Saya bangga pada Kak Risa, beberapa tahun lalu, pilihan hatinya yang tepat telah menuntunnya pada kehidupan rumah tangga yang indah bersama Mas Tono. Kak Risa telah menggunakan busana muslimah, menutup aurat dengan baik, serta pasca menikah, ia menaati suaminya untuk segera resign dari kantor tempatnya bekerja agar lebih bisa menjaga kondisi tubuh sebagai persiapan kehamilan. Sekarang mereka sering bermain di taman bersama bidadari mungil yang lucu, indahnya rumah tangga tersebut.
Pilihan Hati, artinya nurani yang bicara, sepanjang hidup ini kita selalu dihadapkan atas jutaan pilihan. Kita harus memilih dengan tepat, walaupun sulit saat pilihan itu bertaburan ibarat debu, namun kita harus lakukan. Pilihan Hati saat berjumpa sosok “pendamping hidup”, yang menemani hari-hari hingga akhir hayat (insya Allah) biasanya adalah episode terhebat bagi sebagian besar orang.

Pilihan Hatiku saat baru masuk kuliah semester satu, kuyakini bahwa pendampingku—seorang muslim yang selalu optimis pada Allah SWT, walaupun manusia lainnya menghina, “ya ampuuun, masih kuliah, gajiannya guru privat doang?”, atau “kamu bodoh banget yah, dilamar si anu yang udah jadi orang hebat kagak mau, eeeh… pas dilamar mahasiswa kurus, kucel dan gak punya apa-apa, koq mau aja?”, atau cemoohan kalimat seperti, “liat aja loe…ntar baru berapa taon nikah, udah nangis-nangis minta Ce**i, kan anak muda sekarang banyakan gitu niru artis?” (halah, yang ini termasuk tidak pantas, mendo’akan keburukan untuk orang lain).
Ternyata benar, penilaian sekilas dari manusia tak ada artinya di mata Allah. Begitupun sosok calon suamiku ini, dulunya benar-benar bertekad kuat untuk menikah di usia muda, namun sudah beberapa kali ditolak akhwat, rata-rata tak percaya akan kesungguhannya, dengan alasan, “maisyahnya kurang, sebaiknya nunggu lulus kuliah dulu dan kerja mapan, jadi bisa menanti beberapa tahun lagi…”. Bagi sosok disisiku ini, tak ada istilah penantian apalagi pertunangan, teman-temannya dahulu menjulukinya “si keras kepala”. Namun ternyata, kata yang lebih tepat penilaianku padanya adalah, “berani &optimis memegang prinsip”.

Dengan kekuasaan Allah SWT jualah, kami hanya bertemu di forum diskusi tentang Palestina, tadinya tak ada niatan untuk mencari jodoh di forum itu, namun melalui perantaraan temannya yang ternyata kakak kelasku waktu di sekolah, maka ia menanyakan info tentangku lebih jauh. Kami berbeda pulau, berbeda suku, kondisi keluarga pun berbeda, tak pernah bertukar photo, tak pernah bertemu muka hingga saat khitbah.

Namun yang pasti, dulu, setiap akan membalas emailnya, Saya selalu istikharah, cuma Allah SWT tempat meminta petunjuk yang tepat. Saya yakin, alur perjalanan itu adalah semata-mata skenario Allah SWT, hingga kini Dia telah mendidik kami menjadi makin dewasa. Sederet gelar akademik, pengalaman, maupun jumlah nominal uang yang didapat bukanlah alat ukur kesuksesan seseorang. Namun dengan izin Allah yang mudah “Kun Fayakun”, apabila Allah SWT sudah berkehendak mengirim segala kurniaNya itu buat kita, semua itu amat mudah untuk diraih.

Azzam alias Tekad yang kuat saat menetapkan pilihan harus selalu tertanam di hati. Tak pernah putus rezekiNya, tak pernah ada istilah pengangguran sebagai pemuda-pemudi kreatif, dan tak pernah jauh dari rasa optimis pada Allah SWT. Hanya dalam hitungan dua tahun, kala suamiku sudah lulus kuliah dan harus training ke Jerman, cemoohan orang makin memudar. Toh akhirnya tahun berikutnya saat kami sudah mampu membeli rumah sendiri di sudut Jakarta, makin gigit jarilah para penghina itu.

Saya telah sering mengukir hikmah, sharing atas berbagai peristiwa tentang Rumah Tangga kami . Alhamdulillah semakin naik tangga, Saya pun lulus kuliah dengan lancar, cita-cita kami untuk melanglang buana ke berbagai negara (dengan catatan : bukan menggunakan uang rakyat donk!) tercapai, benua-benua lain telah dijelajahi. Dan Alhamdulillah makin banyak pengetahuan baru di berbagai negeri, tak membuat pilihan hati ini berubah.

Di Krakow dan kebanyakan kota-kota Eropa lainnya, kesadaran masyarakat akan pola hidup sederhana sudah sangat tinggi, tak ada pengaruh peningkatan nominal kekayaan dengan gaya hidup (lifestyle). Membeli barang apapun, biasanya sesuai kebutuhan saja, hidup bersahaja. Misalnya hal kecil disini masih banyak pengguna ponsel zaman “ulekan cabe”, merk lama dan ponsel ukuran gede, tapi masih berfungsi dengan baik, walaupun pemiliknya mampu membeli smartphone model tercanggih. Allah SWT Maha Kaya, jangan takut memilih jika hati telah khusyu’ bertanya padaNYA.

Ombak-ombak selalu ada dalam setiap perjalanan hidup, Saya pun pernah memperoleh sms dan telepon dari ex-orang dekat suami, dia minta dijadikan “teman” (alias poligami, oh Allah… semudah itukah?), dan suamiku tidak menginginkan itu. Godaan di dalam negeri terkait kolusi, saat tetangga meminta “pertolongan” dengan pemberian nominal yang besar agar lancar tes (masuk kerja) di perusahaan tempat suamiku bekerja, tentu saja kami menolaknya tegas namun secara halus. Serta berbagai macam peristiwa hidup yang merupakan pengalaman berharga, menjadikan suami-istri makin banyak menggali hikmahNYA, makin erat kemesraan ini.
Ayat cinta-NYA menghibur saat menghadapi berbagai kejadian, “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah bala tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath : 4).

Bukan saja cemoohan masyarakat atas pernikahan muda beberapa tahun lalu, namun ada “kepercayaan adat” bahwa tak boleh mendahului kakak-kakak kandung dalam pernikahan. (Lalu seolah ada ancaman bahwa kakak yang “dilangkahi” tidak akan dapat jodoh lagi) Mitos ini langsung terpatahkan, satu persatu kakak-kakakku menikah dengan lancar, Alhamdulillah dukungan dan do’a orang tua merupakan kekuatan cinta pula bagi kami semua.

Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Maka, luruskan hati dengan niat yang tulus, pilihlah sesuatu dengan kemantapan nurani, mohon bimbinganNYA selalu, insya Allah segalanya dimudahkan.

Sedangkan di kota B, nenek tetangga tempat kami kos dahulu masih bersedih hati, anak-anaknya yang kami panggil bibi, tiga orang masih tetap single. Mereka empat bersaudara perempuan, yang sulung baru menikah di usia kepala empat. Dulu, adiknya yang ketiga tidak diizinkan menikah “hanya gara-gara adat tersebut”, tak boleh melangkahi sang kakak-kakak.
Harus berurutan menikahnya, padahal toh kita meninggal dunia nanti belum tentu berurutan antara kakak-adik. Maka hingga kini, tiga bibi yang makin dewasa, tak terasa sudah beruban, namun tetap hidup sendiri-sendiri. Salah seorang dari mereka berusia tak jauh dari usia ibuku. Pilihan hidup mereka untuk terus memegang adat walaupun “takdir ikhtiari” sesungguhnya ada jalan lain yang lebih baik.

Janganlah ragu, teman. Hendaknya kita memilih sesuatu berdasarkan perintahNYA dan hadits rasulNYA, condongkan hati pada rasa optimis akan bantuan dan bimbinganNYA, bukan berdasarkan ego diri, mitos-mitos atau adat yang jauh dari nilai syari’at. Wallahu ‘alam bisshowab.












#OaseIman


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/yakinlah-akan-pilihanmu-jika-memang-karena-allah.html'>http://ayonikah.net/yakinlah-akan-pilihanmu-jika-memang-karena-allah.html</a>

Pilihlah karena Agamanya ( Kisah Renungan )

Perasaan bahagia menyelimuti hati Faizul Haq-bukan nama sebenarnya.
Kebahagiaan yang sulit untuk ia lukiskan. Barangkali, hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, hari yang penuh suka cita. Hari dimana ia telah dipertemukan dengan dambaan hati, ‘buruan’ cinta.
Senyum mengembang di langit wajahnya.
Bahkan air mata bahagia dan haru menetes mengairi taman hatinya yang
rindu akan belaian cinta dan kasih sayang. Ia telah berani melangkah,
demi menyelamatkan iman, agama dan hatinya.

Mesjid Assalam di Kairo menjadi saksi bisu akad nikah dan walîmatul
‘urs Faizul Haq dengan Sabira Husna-bukan nama sebenarnya. Hari dimana
dua makhluk Allah bertemu dalam cinta kasih yang sah, terikat dalam
mistsiqan ghalizhan. Kepada kedua pengantin setangkai bunga do’a dari hati yang tulus kami persembahkan, “Bakarakallahu laka, wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakum Fi khairin.” Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, amin.

Faiz telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang selamat dan
diridhai Allah. Jalan orang-orang yang merindukan kejernihan hati dan
ketentraman jiwa. Berbeda dengan mereka yang menempuh jalan menyimpang. Jalan orang-orang yang hatinya telah dikotori oleh kotoran setan dan nafsu. Orang-orang tertipu yang memilih kesenangan sesaat. Jalan
laki-laki yang pengecut, pengumbar hawa nafsu dan jalan wanita-wanita
yang bodoh, yang suka mengobral dan menjual kemuliaan diri.
Tidak dipungkiri, Faizul Haq telah merancang dari jauh hari
bagaimana ia menyiapkan hari yang bersejarah dalam hidupnya. Bagaimana
ia menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan. Mulai dari ilmu,
mental, finansial, dan kesehatan fisik. Barangkali keinginan menikah
telah menjadi humum Faiz sejak beberapa tahun kebelakang, sebagaimana
yang juga bergejolak dalam hati banyak anak muda. Kerinduan yang tak
lagi tertahankan untuk berjumpa sang kekasih dambaan jiwa. Kerinduan
untuk bisa memadu hati, menumpahkan segala keluh-kesah dan gelora jiwa.
***
Setiap laki-laki yang soleh mendambakan seorang istri yang solehah.
Istri yang ketika dilihat menyenangkan hati, ketika diperintah ia
patuh, ketika ditinggalkan ia menjaga harta dan dirinya, dan ketika
salah ia mau diingatkan. Istri solihah adalah sebaik-baik perhiasan
dunia.

Ia ibarat sebuah madrasah yang kelak didalamnya anak-anak yang lahir
akan dibesarkan, dididik dan dibina. Bijak dan tepat memilih calon
istri sebelum menikah adalah diantara faktor kebahagiaan rumah tangga.
Salah dalam memilih akan berisiko dikemudian hari. Dengan demikian,
jangan tergesa-gesa menentukan pilihan, tapi kalau sudah nampak yang
cocok dengan persepsi dan keinginan hendaknya segera mengajukan
lamaran. Karena biasanya sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi
menjadi rebutan banyak orang..

Istri solehah akan selalu menjadi sumber kekuatan, tempat bertenang
ketika gelisah melanda jiwa, tempat berbagi ketika resah menghimpit
hati. Istri solihah bukanlah tipe wanita materialistis, yang ketika ada
uang, abang disayang, nggak ada uang abang jangan pulang atau piring
melayang. Sabar disaat kesulitan melanda, qana`ah dengan apa yang ada
dan bersyukur ketika mendapat kelebihan rezki. Bagi seorang istri
solihah keridhaan suami adalah diatas segalanya, walau ia harus melawan
keinginannya.

Hidupnya seluruhnya ia abdikan untuk suami dalam rangka beribadah
dan ketaatan pada Allah Swt. Istri solehah adalah ibarat taman indah
nan penuh pesona. Tak lelah mata memandang keindahan budi pekerti dan
tingkah lakunya.

Istri solehah selalu dirindu dan dikenang. Rindu pada belaian
lembutnya, rindu pada teguran halusnya, rindu akan senyum tulusnya,
rindu pada wajahnya yang teduh, air mukanya yang jernih dan rindu pada
kata-katanya yang mesra. Hati akan resah bila lama tidak berjumpa, bila
jarak telah memisahkan. Hati akan gelisah bila satu hari tidak bertemu.
Karena cinta yang telah tenggelam dalam samudera hati, cinta akan
kebaikan dan kebagusan akhlaknya. Sungguh benar apa yang disampaikan
Rasulullah Saw. bahwa memilih wanita solehah akan membahagiakan
seseorang di dunia dan di akhirat.

Untuk calon suami, pilihlah seorang calon istri yang telah dikenal
baik akhlak dan agamanya. Utamakanlah itu atas segalanya. Dan jangan
lupa untuk juga mempersiapkan diri menjadi seorang suami yang soleh.
Dan bagi seorang calon istri, bila datang seorang laki-laki yang Anda
kenal baik agama dan akhlaknya dan Anda memang telah siap untuk
menikah, janganlah menolak, tapi terimalah niat baiknya dengan hati
yang terbuka. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri Anda menjadi
bidadari baginya di dunia dan di akhirat.
Istri solehah adalah harta yang paling berharga dan bernilai tinggi
yang tiada duanya. Sungguh beruntung dan berbahagia seseorang yang
dikaruniai seorang Bidadari Dunia. Hidup akan penuh dengan kebaikan dan
ketaatan. Hidup yang selalu bersemangat, penuh cinta dan cita-cita
mulia.
Aa Gym pernah berkata, “Istri solehah adalah sebaik-baik keindahan,
kata-katanya menyejukkan kalbu, ia bagaikan bidadari surga yang hadir
di dunia. Ia adalah istri yang meneguhkan jihad suami, penebar rahmat
bagi rumah tangga, cahaya dunia dan akhirat.”
Beberapa orang pernah datang kepada saya, curhat tentang keinginan
mereka untuk menikah. Yang datang pun bervariasi, dengan berbagai
permasalahan yang mereka miliki.

Setiap yang datang selalu saya berikan dorongan untuk tidak ragu melangkah ketika melihat diri telah siap. Siap yang tidak saya artikan sebatas modal kemauan, namun konkritnya
ada bekal yang telah dimiliki untuk membina rumah tangga. Juga melihat
kesiapan dengan kejernihan hati dan pikiran, bukan dengan kacamata
nafsu dan setan.

Harus ada kesadaran yang penuh ketika merespon dorongan-dorongan yang muncul dalam hati.
Fakta telah banyak berbicara, tentang orang-orang yang menikah hanya
untuk melampiaskan hasrat nafsu yang tak lagi bisa ditahan. Apa yang
terjadi adalah, hubungan yang tidak pernah harmonis dan sering terjadi
cekcok antara suami-istri hanya disebabkan permasalahan sepele. Karena
masih didominasi oleh sikap kekanak-kanakan dan sikap yang cenderung
egois, emosian, sentiment dan penuh curiga.

Ketika seseorang ingin ikut serta dalam sebuah perlombaan, kesiapan
yang ia miliki menjadi tolak ukur kesuksesannya. Jika ia mempersiapkan
diri dengan matang, peluang untuk menang akan terbuka dihadapannya.
Tapi ketika persiapan yang ia miliki apa adanya, maka hasilnyapun akan
jauh dari yang diharapkan. Tidak hanya dalam perlombaan, tapi dalam
setiap dimensi kehidupan yang kita jalani, adanya kesiapan sangat
menentukan kesuksesan kita.

Pernikahan tidak hanya semata hubungan biologis, kalau kita memaknai
demikian, tentu tidak berbeda cara pandang kita dengan hewan. Namun
dengan menikah ada nilai-nilai yang ingin kita raih, ada tugas, amanah
dan kewajiban yang harus ditunaikan dan dipertanggung jawabkan. Ibarat
kita ingin mendirikan sebuah gedung diatas sebidang tanah. Ketika
pondasi yang dibangun kuat, pondasi akan tetap kokoh dan gedung tidak
akan runtuh. Sedangkan bila pondasi lemah, besar kemungkinan gedung
tidak akan bertahan lama dan akan cepat roboh.

Pada intinya, kita perlu mempersiapkan diri, dan itu sudah menjadi
keharusan. Siapkan ilmunya, mental, kesehatan dan finansial. Dan yang
paling utama kita harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah Swt..
Kita harus terus berupaya untuk meraih kedudukan taqwa. Dengan
ketaqwaan segala kesulitan akan menemukan jalan keluarnya.
Allah Swt. telah menjanjikan, bahwa barang siapa yang bertaqwa maka Allah Swt. akan memberinya jalan keluar terhadap kesulitan yang ia hadapi dan
memberinya rezki dari arah yang tidak ia duga.

Dari sekarang, binalah hubungan yang baik dengan Allah Swt. dan
dengan orang lain. Latihlah diri Anda dalam ketaatan, gemar berbuat
kebaikan dan rajin beribadah. Latihlah diri Anda dengan perilaku yang
mulia sehingga ia menjadi kebiasaan Anda. Dan bila diri Anda telah
siap, maka melangkahlah dengan yakin. Adanya kekurangan ekonomi
janganlah jadikan penghalang utama. Anda harus yakin rezki setiap hamba
telah ditentukan kadarnya oleh Allah Swt. Bukankah itu suatu hal yang
menggembirakan. Anda tidak perlu merasa susah, tinggal Anda berusaha
untuk menjemput rezki itu.

Dan terakhir, jangan salah pilih, jangan tertipu dengan penampilan
luar, pilihlah dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan memilih
dengan landasan nafsu dan bisikan setan. Utamakanlah agama diatas
segalanya, dengan demikian kita akan bahagia sebagaimana yang
dijanjikan oleh Rasulullah Saw.
Jadi, jangan tunda lagi kalau Anda sudah siap, bersegeralah …!







Baca klik <a href='http://ayonikah.net/pilihlah-karena-agamanya-kisah-renungan.html'>http://ayonikah.net/pilihlah-karena-agamanya-kisah-renungan.html</a>

Kenapa Masih Menunda Menikah

Kenapa Masih Menunda Menikah

 Beberapa kali saya bertanya kepada anak-anak muda perkotaan, yang di mata saya tampak sudah dewasa dan mandiri. Mereka telah lulus kuliah dan bekerja di suatu perusahaan. “Mengapa anda tidak segera menikah, sementara usia anda telah dewasa dan anda juga sudah memiliki penghasilan?”



“Saya belum memiliki pekerjaan tetap”.

“Saya belum memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga”.

“Saya belum memiliki investasi yang memadai”.

“Saya belum mampu membiayai hidup saya sendiri. Saya khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah keluarga nantinya”.

“Saya belum siap secara ekonomi….”

Itulah sejumlah alasan yang dikemukakan sehingga merasa diri absah untuk tidak segera melaksanakan pernikahan. Ada perhitungan yang sangat matematis mengenai hidup, bahwa biaya-biaya hidup itu linear, kalau satu orang hidup memerlukan uang satu juta rupiah sebulan, maka dua orang berarti dua juta, kalau empat orang berarti empat juta rupiah. Ia merasa belum mampu membiayai hidupnya sendiri, maka dipikirnya akan sangat memberatkan apabila ia harus menikah dan menghidupi keluarga.
Gaya Hidup Sinetron
Gambaran hidup seperti apa yang mereka bayangkan? Sinetron sering mengajarkan hidup yang glamour, mewah dan tiba-tiba kaya. Seorang anak muda yang tidak diceritakan bagaimana sejarah dan usahanya, tiba-tiba tampak digambarkan mengendarai mobil mewah, tinggal di rumah tingkat yang luas dan megah, berganti-ganti pasangan, dan lain sebagainya. Apakah kita sekarang tengah hidup di dunia sinetron? Membayangkan menjadi pelaku dalam sebuah sinetron dengan segala kemewahan material yang tidak masuk akal itu?

Tiba-tiba anak-anak muda itu dicekam oleh rasa takut yang amat sangat, bagaimana hidup nantinya jika tidak memiliki cukup materi. Mereka merasa gagal hidup bahagia sejak dari awalnya, hanya karena belum memiliki investasi yang mencukupi untuk menghadirkan kemewahan-kemewahan yang diinginkan. Untuk itulah pernikahan dianggap belum layak dilaksanakan saat ini. Nantilah kalau telah punya rumah sendiri. Nanti sajalah kalau sudah punya mobil Ferrari sendiri. Nantilah kalau tabungan sudah lebih dari mencukupi.
Masyarakat kita terlanjur meletakkan ukuran-ukuran serba-materi dalam menjalani kehidupan. Kesuksesan dan kegagalan tolok ukur utamanya adalah materi. Perbincangan publik berkisar pada aspek-aspek material, dan masih terpaku hanya pada sisi itu saja. Wajar kalau kemudian berpengaruh secara amat kuat pada mentalitas anak-anak muda, ketika akan memutuskan menikah pikiran pertama kali adalah ketersediaan dana dalam jumlah yang cukup bahkan berlebih.

Orang tua dan masyarakat turut memberikan pengaruh tatkala mereka menuntut “pekerjaaan tetap” dan “gaji tetap” kepada calon menantu laki-laki yang datang melamar anak perempuannya. Mereka menanyakan, apa pekerjaan tetapnya, berapa gaji per bulannya, bagaimana nanti memberikan makan isteri dan anaknya? Pertanyaan yang mengarahkan kepada orientasi dan jawaban-jawaban serba-materi.

Tentu saja pertanyaan di atas tidaklah salah, sebab materi memang diperlukan untuk menjalankan kehidupan. Pertanyaan tersebut sah dan benar semata. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah apabila dampak dari pertanyaan dan orientasi materi itu menyebabkan terhambatnya proses pernikahan. Anak muda merasa takut untuk melangkah menuju pernikahan karena belum cukup memiliki jawaban untuk menghadapi pertanyaan calon mertua yang “seperti itu”.

Akhirnya mereka memilih menunda-nunda pernikahan dengan memperpanjang masa pacaran. Dampaknya akan sangat buruk terhadap mereka, karena tidak mampu lagi menjaga gejolak syahwat.
Materi telah berubah menjadi berhala. Seakan-akan materilah yang membuat orang menjadi berbahagia atau celaka. Seakan-akan materi yang menjadi jaminan kebaikan hidup. Berhala materialisme itu disebarkan sebagai sebuah keniscayaan, membuat orang tunduk di hadapannya, takluk tanpa bisa melawan. Membuat masyarakat mengikuti keinginan dan tuntutannya.
Mengapa mau menyerah dan tunduk kepada gaya hidup sinetron?

Miliki Visi
Pernikahan akan berhasil apabila anda memiliki visi yang jelas dan terang benderang dalam kehidupan. Menikah bukan persoalan usia, atau ketersediaan materi, atau sarana kehidupan pada umumnya. Yang sangat penting adalah visi yang kuat dalam diri anda, untuk apa anda berumah tangga, untuk apa anda berkeluarga, untuk apa anda melaksanakan pernikahan?
Jika anda memiliki visi ibadah, maka akan memberikan kekuatan pondasi yang menjadi modal utama dalam kehidupan rumah tangga anda nantinya. Niatkan dengan sangat kuat, bahwa pernikahan adalah ibadah, sebagai sarana melaksanakan ketaatan kepada Tuhan dalam kehidupan. Berbagai persoalan dan permasalahan dalam hidup berumah tangga yang nantinya pasti akan dijumpai, dengan sangat mudah anda lewati bersama pasangan, kika anda meletakkan ibadah sebagai pondasi pernikahan.
Menikah bukan semata-mata melampiaskan syahwat kepada pasangan hidup. Menikah tidak semata-mata menyalurkan hasrat biologis, atau sekedar mengikuti instink kemanusiaan. Lebih dari itu, menikah adalah langkah pasti meretas sebuah peradaban kemanusiaan yang luhur dan mulia. Menikah adalah gerbang memasuki jati diri kemanusiaan yang utuh dan bermartabat. Menikah adalah sarana untuk menguatkan peran-peran sosial dalam kehidupan, bahwa hidup kita tidak sekedar untuk urusan diri sendiri.
Kalahkan orientasi materi dengan kejelasan visi. Enyahkan berbagai ketakutan dan kegalauan hati akibat merasa kekurangan materi, perkaya diri dengan kekuatan visi. Menikahlah dengan visi yang jelas dan benar tentang hidup berumah tangga, bermasyarakat, dan berperadaban. Insyaallah hidup anda akan bahagia.




Cahyadi Takariawan
#
http://www.islamedia.web.id/2013/03/mengapa-menunda-menikah.html

Ketika Taat kepada Allah SWT menjadi SAKSI CINTA kita ( Puisi Tausiah )

Dalam kehidupan berumah tangga, kata Taat harus menjelma menjadi kenyataan
Bukan sekedar hiasan yang menumpuk dalam teori di otak kita
Taat disini adalah, semua aktifitas kita bersandar pada aturan langit
Membingkai semua itu, dalam kesadaran dalam kehidupan berumah tangga sehari-hari.
Ketika kita mampu melakukan itu semua
Maka riak, maka celupan badai dalam rumah tangga, yang kita kenal dengan nama MASALAH
Akan terselesaikan dengan sendirinya, inilah yang dinamakan proses PEMBELAJARAN menuju kedewasaan.
Karena Rumah Tangga Sholeh itu berdiri diatas Masalah yang terselesaikan dengan baik.
Karena Rumah Tangga Sholeh itu, mengurai masalah menjadi kebaikan dalam pelangi penyelesaian.
Karena Rumah Tangga Sholeh itu tidak ada dengan instant, semua melalui proses, proses menjadi dewasa, proses meredakan badai dan amukan topan, proses saling belajar dan saling memahami satu sama lain diantara suami dan istri serta anak-anak.
Maka Taat pada Allah SWT, bukan hanya hiasan dalam janji setelah akad
Maka Taat pada Allah SWT, bukan hanya imajinasi dalam hayalan sepi tentang Rumah Tangga
Karena Taat pada Allah SWT itu artinya pembuktian
Karena Taat pada Allah SWT itu artinya engkau sebagai suami harus memahami fungsi seorang qowwam
Karena Taat pada Allah SWT itu artinya engkau sebagai Istri harus memahami makna kata AMANAH
Karena Taat pada Allah SWT itu artinya engkau sebagai anak, harus memahami jiwa kebaikan orang tua.
Karena dalam kamus Rumah Tangga Sholeh, TAAT itu adalah SAKSI CINTA,pembuktiaan akan amanah Allah ini.
Inilah seni dalam berumah tangga, membingkai Taat dengan energy cinta





)I(hamzah)I(

Baca klik <a href='http://ayonikah.net/ketika-taat-kepada-allah-swt-menjadi-saksi-cinta-kita-puisi-tausiah.html'>http://ayonikah.net/ketika-taat-kepada-allah-swt-menjadi-saksi-cinta-kita-puisi-tausiah.html</a>

Hadiah Istimewa Ulang Tahun Perkawinan

“Hadiah Istimewa” Ulang Tahun Perkawinan

Tersebut lah sepasang suami istri yang telah melewati 10 th masa pernikahannya. Mereka sepakat akan saling memberikan hadiah yang paling diinginkan. Mereka menulis masing-masing keinginannya di dalam sebuah amplop tertutup dan berjanji esok pagi akan membuka amplop itu secara bergiliran. (InsyaAllah)


 Sang istri berujar, “hari ini yang akan dibuka adalah amplop papa lebih dahulu yaa..”. “Apakah tidak sebaiknya amplop mama saja, aku ingin tahu apa yang paling mama inginkan, setelah itu baru amplopku”, jawab sang suami.“Baik lah” ucap sang istri sambil mengangguk.

Ketika amplop istri dibuka oleh sang suami, tertulis lah sebuah kalimat di dalam surat itu “Aku menginginkan sebuah gelang berlian sebagai pengikat 10 th pernikahan kita, lalu temani aku ke salon,” .Dengan tersenyum sang suami pun berujar, “Baik lah mari kita cari gelang yang engkau inginkan itu,” jawab sang suami pada istrinya.

Ternyata mencari gelang berlian itu tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya. Sudah sepuluh toko yang dikunjungi, tidak ditemukan satu pun gelang yang dinginkan oleh sang istri. Setelah melewati sholat Dzhuhur dan Ashar di mesjid terdekat, hari makin beranjak senja, meski pun kaki nya sudah sangat letih sang suami tetap menemani istrinya berbelanja. Akhirnya gelang yang diidamkan sang istri terbeli juga.
Tapi permintaan belum lah selesai ditunaikan, setelah mendapatkan gelangnya, sang istri pun minta ditemani ke salon. Bayangkan tiga jam dihabiskan di salon, sang Istri melakukan sholat Maghrib pun di sana, sementara sang suami yg setia menantinya, sholat di Mushola terdekat.

Malam makin larut ketika mereka sampai di rumah. Setelah mandi dan sholat Isya berjama’ah, kini giliran amplop sang suami di buka oleh si istri. Betapa terkejutnya sang istri, amplop itu hanya berisi kertas putih yang kosong.

Sang suami tersenyum memandang istrinya yang terbengong-bengong menatap kertas kosong. Lalu suaminya berujar, “Apa yang paling aku ingin kan sudah aku dapatkan, seorang istri sholehah sepertimu, telah engkau baktikan seluruh hidupmu untuk mengurus buah hati & rumah tangga kita serta mengurus diriku.
Bahkan tidak sekali pun engkau meminta perhiasan dan memanjakan diri mu sendiri. Itu lah sebabnya aku dengan ikhlas menemani mu seharian ini dan membelikan gelang berlian sesuai permintaanmu.
Sekarang.. aku minta engkau lah yang menulis di kertas kosong milikku.. apa yang engkau tulis akan menjadi hal yang paling ku ingin kan pula” .Suara lembut suaminya menelusup ke rongga hati sang istri, tak terasa hangat menetes bulir-bulir airmata jatuh di pipi si istri.

Sang istri mengambil pulpen dan mulai menulis di kertas kosong itu, tidak berapa lama diserahkannya kertas itu pada sang suami. Dengan perlahan si suami membaca kata demi kata yang tertulis, “ Aku ingin gelang berlian yang tadi engkau belikan untukku menjadi kado ulang tahun untuk mama (mertua)”.
Sang suami menatap bingung istrinya, belum sempat ia bertanya mengapa, telunjuk lentik dan halus sang istri sudah menyentuh bibirnya. Sambil tersenyum sang istri berujar,

“Akan ku berikan perhiasan terindah yang pernah ku miliki ini sebagai tanda terima kasih ku untuk mama tercinta, perempuan terhebat yang telah melahirkan dan membesarkan mu, seorang laki-laki hebat, suami yang sholeh dan mencintaiku apa adanya”. Tidak kuasa mata sang suami membendung bulir-bulir airmata keharuan.

SubhanAllah… Sepasang suami istri yang saling mencintai karena Rabb nya, Semoga ada hikmah dan manfaat yang dapat dipetik dari kisah ini, InsyaAllah.. aamiin.

Subhaanakalloohumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh



Cassava

Baca klik <a href='http://ayonikah.net/hadiah-istimewa-ulang-tahun-perkawinan.html'>http://ayonikah.net/hadiah-istimewa-ulang-tahun-perkawinan.html</a>

SAAT HARUS MEMULAINYA TANPA PERASAAN CINTA

SAAT HARUS MEMULAINYA TANPA PERASAAN CINTA

Dari sebuah siaran radio pagi, terdengar curhatan seorang gadis tentang persahabatannya dengan seorang teman pria. Telah melalui waktu yang lama bersama. Sekolah di SMP yang sama, SMA yang sama, bahkan Kampus yang sama. Teman main band. Dan tinggal berdekatan.



Mereka berdua belum mempunyai pasangan. Akhirnya, berinisiatiflah mereka untuk menjalin hubungan – pacaran. “Kenapa ga dicoba? Jalanin aja dulu,” pikir mereka.
Tapi setelah perjalanan waktu, kehampaan perasaan mengkandaskan hubungan mereka. Tidak ada perasaan cinta, itu alasannya. “Padahal dia baek banget. Gak jelek-jelek amat…” Begitu cerita si gadis melalui telepon. Dan mereka berdua jujur bahwa tak punya ketertarikan satu sama lain dan mereka tak bisa melanjutkan hubungan itu. Kembalilah dua insan itu dalam taraf hubungan persahabatan.

Cerita ini menggelitik akal dan perasaan saya, yang telah menikahi seorang muslimah sekitar 6 tahun lalu tanpa perasaan cinta atau suka sebelumnya. Agak berbeda dengan cerita curhatan gadis di siaran radio itu, saya bahkan tidak teralu mengenal pasangan saya saat melamarnya. Perkenalan pertama kali terjadi difasilitasi oleh pembimbing ruhani kami dan itu pun dengan niat mencari pasangan untuk menikah di jalan Allah. Setelah dua kali pertemuan, kami sepakat untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Dan saya pun mendatangi orang tuanya untuk melamar beberapa lama kemudian.

Pernikahan telah berjalan yang awalnya sama seperti gadis dan kawannya itu, tak ada perasaan apa-apa. Kenal pun baru. Tapi kami berhasil membinanya. Bahkan kini telah dikaruniai dua orang anak. Sekarang, adakah perasaan cinta itu di antara kami? Insya Allah ada. Saya rasakan.
Lantas, apakah penentu dari dua cerita yang hampir sama namun berkelanjutan berbeda? Jawabnya adalah niat dan komitmen!

Niat saya dan gadis itu berbeda. Niat saya, ingin mencari pendamping untuk hidup berdua dengan serius dalam mahligai pernikahan. Sedangkan niat gadis itu adalah mencoba menjalani hubungan yang kapan pun bisa saja disudahi tanpa pertimbangan dalam, yang hubungan itu dinamakan pacaran. Komitmen yang mengikat antara pernikahan dan pacaran tentu sangat berbeda. Pernikahan diikat oleh sebuah komitmen yang Allah sebut mitsaqon gholizho, sedangkan pacaran tak ada ikatan itu. Malah ulama mengatakan pacaran itu haram.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 21, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu mitsaqon gholizho (perjanjian yang kuat.).”
Niat dan komitmen membuat sebuah ikatan menjadi kokoh dan tak tergoyahkan oleh pasang surut cinta. Niat membangun rumah tangga yang menghadirkan generasi Islam yang sehat dan punya manfaat untuk umat, akan berbeda dengan niat pacaran yang hanya sekedar ingin mendapatkan manis dari saling perasaan cinta.
Dalam rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, membangun keluarga adalah tujuan. Pasangan dianggap sebagai partner menghadirkan keakraban di dalam keluarga. Yang menjadi perekat adalah cinta kepada Allah swt. Cinta kepada pasangan bukan perekat yang utama, walau itu adalah pemanis dalam berumah tangga.

Bila cinta kepada pasangan hilang, ada tanggung jawab untuk menjamin keberadaan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah yang telah dibangun itu agar tetap utuh. Perpisahan tentu bukan jalan yang baik untuk missi menghadirkan generasi pembina umat. Tak tega melihat anak hidup dalam broken home. Idealnya seperti itu.
Tetapi dalam jalinan pacaran, pasangan dianggap sebagai partner yang harus menghadirkan cinta. Terjadi persaingan adu saling manja. Tak ada pertimbangan yang dalam bila harus saling berpisah. Karena itu ikatannya rapuh.

Wajar bila orang yang tak terpikirkan untuk membangun komitmen pernikahan di jalan Allah heran dengan pernikahan yang dimulai tanpa perasaan asmara. Tak dimulai dengan mabuk kepayang. Wajar mereka heran apakah ikatan seperti ini bisa bertahan. Karena yang dimengertinya adalah pernikahan itu merupakan muara dari dua aliran asmara. Tak lebih.

Tapi yang lebih mengherankan lagi bila ada aktivis dakwah yang pacaran (di luar nikah). Selain mereka harusnya mengerti bahwa pacaran itu berada pada zona “taqrobuz-zina” (mendekati zina), juga karena mereka yang harusnya paham bahwa ikatan cinta kepada Allah adalah kokoh malah bersandar pada ikatan asmara yang kapan pun bisa datang dan bisa hilang.
Bila tiba saatnya aktivis dakwah yang pacaran itu mengikat ikatan mereka dengan halal, mereka harus meluruskan niat mereka untuk membangun rumah tangga yang samara dan punya dampak untuk perkembangan Islam.

Mereka harus punya kesadaran bahwa perasaan saling suka yang membuat mereka pacaran itu kelak bisa hilang – dengan izin Allah – dan komitmen untuk membangun keluarga yang islami lah yang mereka pegang erat-erat bila rasa saling suka itu hilang. Bila niatnya untuk sekedar menghalalkan rasa saling suka, sayang sekali gelar aktivis dakwah itu.


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/saat-harus-memulainya-tanpa-perasaan-cinta.html'>http://ayonikah.net/saat-harus-memulainya-tanpa-perasaan-cinta.html</a>

Inilah Kiat Meyakinkan Diri Memilih Kekasih Sejati

Jika kita mau jujur, tanpa melihat perintah langit pun, Menikah sejatinya adalah pangilan jiwa, kebutuhan yang tak terelakkan dalam diri setiap manusia.

Apalagi, ketika usia menginjak dewasa, rasa sepi yang menggelayuti tanpa diminta, hanya bisa diobati dengan hadirnya belahan hati bernama suami atau istri.

Dari sudut pandang ini saja, siapapun kita, tak layak rasanya jika mempersulit diri. Apalagi, jika ada orang, baik orang tua maupun keluarga yang turut campur dalam memperlama proses suci yang disebut al-Qur’an dengan istilah perjanjian yang kuat itu.

Orang tua atau keluarga yang mempersulit anaknya untuk menikah ini, jika mereka menggunakan alasan yang tak syar’i, sejatinya mereka telah menggali lubang maksiat untuk putra/putri juga keluarganya. Apalagi, para pendahulu umat ini telah banyak memberikan contoh tentang peran orang tua dalam memilihkan pasangan hidup bagi anaknya.

Sebut saja kisah Khalifah Umar bin Khaththab yang mengumpulkan anak-anaknya untuk menikahi anak penjual susu yang jujur dan takut kepada Allah sebagai RabbNya, di tengah anak-anaknya itu, al-Faruq dengan tegas mengatakan, “Nikahi gadis itu, jika tidak ada yang mau, aku yang akan menikahinya.” Terang sekali perintah ini. Dasarnya jelas, wanita itu dipilih karena kualitas iman dan taqwanya, tanpa melihat orang tua dan status sosialnya. Padahal, kala itu, Umar adalah khalifah. Pemimpin tertinggi dari sebuah pemerintahan Islam.

Dalam cerita lain, ketika Umar meminta ijin untuk menikahi Ummu Kultsum kepada ayahnya, Ali bin Abi Thalib, Umar dengan tegas mengatakan, sebanyak dua kali, “Nikahkan aku dengannya.” Ini adalah pertanda keberanian yang berbalut taqwa, bukan nekat tanpa persiapan. Atau nekat, tanpa tahu diri. Lantas, Ali menjawab bahwa ia sudah mempersiapkan Ummu Kultsum dengan keponakannya.

Kisah kedua ini, menandakan bahwa Ali, jauh-jauh hari sudah mempersiapkan anaknya untuk menikah dengan siapa. Tentu, ini adalah bukti bahwa keluarga tersebut adalah keluarga yang menjadikan Allah sebagai tujuannya, satu buktinya : mereka tidak mempersulit keluarganya dalam melakukan ibadah.
Sayangnya, di zaman kita ini, pun ketika orang tua menjodohkan kita dengan calon yang sholih/ah, banyak diantara kita yang menolak dengan dalih bahwa zamannya sudah berbeda. Bahwa sekarang bukan lagi musimnya Siti Nurbaya. Bahwa saat ini, anak-anak bebas mau menikah dengan siapa, asal suka sama suka. Padahal, ketika anak-anak itu salah pilih –misalnya- maka iapun tetap dan hanya akan mengadu kepada orang tuanya.

Nah, ketika bisikan-bisikan hati untuk menikah itu sudah timbul, seringkali diiringi kebimbangan yang tak kalah dahsyatnya. Ironisnya, bisikan keraguan itu seringkali tak beralasan, bahkan -maaf- terkesan dibuat-buat. Dan, sama sekali tidak sesuai dengan apa yang ada dalam al-Qur’an maupun sunnah nabi. Ini perlu diluruskan, mengingat dampak buruk dari menunda menikah dengan alasan yang jauh dari nilai agama, salah satunya adalah menjamurnya bujangan sehingga memperlama lahirnya generasi yang bisa dididik untuk memakmurkan negeri dengan taqwa.

Dampak lainnya, bujangan-bujangan itu –seringkali- mudah terjerumus dengan maksiat hingga akhirnya memilih jalan pintas untuk memuaskan nafsunya. Baik terhadap pasangan tak halal, atau sengaja ‘membeli’ yang haram namun diperdagangkan. Lantas, bagaimana caranya meyakinkan diri, bahwa dia adalah yang terbaik untuk kita?

Yang paling awal untuk difahami adalah, Menikah itu melaksanakan perintah Allah. Maka hanya kepadaNyalah kita diwajibkan mengembalikan semua persoalan. Jika memang belum menemukan tambatan hati, berdoalah, “Ya Allah, aku ingin melakukan sunnah nabiMu, menikah. Pilihkan untukkku jodoh terbaik, dengan caraMu.”
Ikuti doa itu dengan perbanyak ibadah. Wajib dan sunnah, juga semua yang disyari’atkan. Insya Allah, yang terbaik akan segera dihadirkan.

Jika misalnya sudah menemukan ‘calon’ dengan cara yang benar, maka doa tak boleh ditingalkan pula, “Ya Allah, berikan petunjuk kepadaku. Jika dia baik untukku, segerakan kami menyatu dalam mencintaiMu. Jika bukan, jauhkan dengan cara terbaik, dan berikan ganti yang terbaik pula.”

Doa ini, harus dilakukan berulang-ulang. Iringi dengan istikharoh yang disunnahkan. Jangan lupa meminta nasehat dari orang bijak di sekitar kita. Mulai orang tua, ustadz, sahabat, dan seterusnya. Jika niatmu untuk menikah dengannya dimudahkan, bisa jadi, itu adalah salah satu pertanda bahwa dia memang baik bagi diri, keluarga dan agamamu. Ingat, misi kita menikah bukan sekedar menghilangkan sepi sendiri -tapi lebih dari itu- menikah adalah melakukan salah satu sunnah Rasulullah yang mulia.

Ketika sudah selesai meminta ‘pertimbangan’ dari Allah, selanjutnya, yakinkan dirimu. Ini sangat penting. Karena sebijak apapun nasehat dari orang lain. Atau, seburuk apapun komentar dari penonton, maka andalah yang akan menjalani. Dalam tahap ini, ketika komentar dan nasehat dirasa tak lagi sehat, cobalah gunakan satu logika, “Jika anda bahagia, dan anda tidak melanggar aturanNya, meskipun seluruh dunia menolak anda, maka lakukan itu karenaNya.” Ini sudah lebih dari cukup. Karena, setelah menikah, anda berdualah yang akan menanggung semuanya.

Jika misalnya, dia adalah orang baik namun dipersepsi buruk oleh orang lain bahkan keluarga anda sebelum menikah, setelah menikah maka andalah orang pertama yang akan menerima kebaikannya. Jika sebaliknya, dia buruk tapi dipersepsi baik oleh orang lain, maka anda pula yang akan merasakan keburukannya pertama kali. Jadi, egois itu tidak baik. Tapi dalam tahap-tahap tertentu, ia bisa anda gunakan. Asal, jangan over dosis.

Terakhir, yakinkan keluarga anda dan keluarga calon pasangan anda. Ini tak kalah pentingnya. Karena bagaimanapun, anda bisa besar seperti sekarang ini adalah lantaran peran keluarga anda. Tanpa mereka, mungkin anda sudah terbuang di tempat entah tanpa mendapatkan penghidupan yang layak. Jika bukan karena keluarga anda, bisa jadi, saat ini anda tengah terlunta-lunta dalam ketidakjelasan tanpa ujung. Jika misalnya, keluarga tidak menerima calon yang anda usulkan lantaran tingginya kurang sekian sentimeter atau kulitnya kurang langsat, sebaiknya anda bicarakan baik-baik.
Bahwa menikah adalah ibadah. Jikapun casing kurang menarik, jika akhlak dan agamanya baik, maka anda wajib mencari ribuan cara, agar calon yang anda ajukan itu diterima oleh keluarga anda. Ini hanya soal persepsi saja. Apalagi, jika keluarga anda belum melek agama. Seringkali, penilaian hanya berasal dari yang tampak saja : harta, tahta dan strata.

Begitupun keluarga calon pendamping anda. Mereka, selepas ijab qobul, adalah keluarga anda juga. Jika mereka baik, anda akan nyaman. Jika mereka buruk, anda pun akan terkena dampaknya. Dalam tahap ini, selalu gunakan akal sehat sesuai yang diajarkan Islam. Jika misalnya, mereka menolak anda hanya karena belum punya rumah, maka ada baiknya anda berpikir ulang. Lantaran harta dijadikan satu-satunya alasan. Namun, jika mereka melihat kesungguhan anda, lalu menerima dan mendukung, semoga itu adalah pertanda kebaikan.

Kunci sukses langkah terakhir ini, ada pada diri anda. Karena, kebanyakan pemuda gagal meyakinkan orang tua dan calon mertuanya, bersebab dari belum bisanya dia dalam meyakinkan dirinya sendiri. Jika ia saja masih bimbang, bagaimana mungkin bisa meyakinkan orang lain?





#http://www.bersamadakwah.com/2014/02/kiat-meyakinkan-diri-memilih-kekasih.html

Baca klik <a href='http://ayonikah.net/inilah-kiat-meyakinkan-diri-memilih-kekasih-sejati.html'>http://ayonikah.net/inilah-kiat-meyakinkan-diri-memilih-kekasih-sejati.html</a>

Tuesday, April 22, 2014

Tentang Jodohku Siapa?

Untuk persoalan jodoh, setiap orang hendaknya bersungguh-sungguh, baik laki-laki maupun perempuan harus proaktif dan selektif. Tidak ada dikotomi bahwa laki-laki harus mencari dan perempuan harus menunggu (ikhtiar), namun tidak keluar dari norma dan syariat.

Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan yang ‘menawarkan’ dirinya pada Rasulullah, dan Rasul-pun tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang hina atau tabu. Hanya saja, kini kita berada pada budaya yang masyarakatnya masih memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak etis, sehingga perempuan-perempuan Indonesia untuk persoalan jodoh lebih banyak berperan menunggu dibandingkan ‘mencari’.

Agar pernikahan bersemi dengan indah, maka dalam memilih jodoh hendaknya kita sangat mengutamakan ajaran Islam, seperti yang dipesankan Rasulullah SAW. “…lihatlah agamanya maka kalian akan mendapatkan semuanya…“. Dengan memiliki pasangan yang agamanya baik dan benar, maka rumah tangga kita akan menjadi sakinah, mawaddah dan warahmah.

Pertanyaannya, “Jodohku Siapa…?”. Jodoh, memang merupakan misteri kehidupan, karena untuk hal yang satu ini terkadang membuat seseorang sangat bimbang dalam menentukan keputusannya.
Jangankan untuk menerima seseorang menjadi pasangan hidupnya kelak, dalam persoalan menerima tawaran ta’aruf saja terkadang masih terlalu banyak ‘kriteria’ yang dipakai. Sampai-sampai kriteria yang dipasangpun sudah tidak memenuhi kriteria syar’i lagi, seperti harus yang ‘smart’, tinggi, putih, cantik, ganteng, kaya, sarjana, dan lainnya.

Tidak salah memang untuk memasang kriteria seperti itu, hanya saja menurut beliau hendaknya kita tidak mempersulit diri untuk persoalan ini. Persoalan fisik adalah titipan dari Allah SWT, kita tidak pesan sama Allah waktu mau dilahirkan! biar hitam asal hatinya putih, biar pendek asal akhlaknya tinggi, biar kurang ganteng asal taqwa, biar kurang cantik tapi sholehah.
Insya Allah, tidak akan menyesal bagi yang memilih pasangan hidup berdasarkan agamanya. Jika di dunia ini ada surga, maka surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Rasulullah SAW berkata ‘Baiti Jannati”, Rumahku Surgaku. Kebahagiaan merupakan hal yang relatif.

Tiap orang mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Namun saya yakin kebahagiaan yang hakiki dapat kita peroleh hanya dengan jalanNya. Ingin memiliki rumah tangga yang bisa kita jadikan surga kita didunia? Ikutilah petunjuk Rasulullah SAW.
Lihat agamanya niscaya kalian akan mendapatkan semuanya“. Selamat menempuh hidup baru, bagi anda yang ingin menikah dan selamat berbahagia untuk anda yang telah berkeluarga.
#Islamedia.web.id


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/tentang-jodohku-siapa.html'>http://ayonikah.net/tentang-jodohku-siapa.html</a>

Cara Mengatasi Rasa Malu di Malam Pertama

Jika pintu telah tertutup, 
bukalah mata dan hati lebar-lebar....
Siapkan untuk memandang apa saja, yang disukai atau kurang disenangi. Siapkan diri untuk menyatukan jiwa raga. Malam ini semuanya telah ditakdirkan untuk dinikmati. Idealnya, malam pertama memang harus seperti itu. Masing-masing pasangan  berusaha untuk mengoptimalkan mesra, meraih bahagia. Karena ini saat yang paling tepat untuk menumbuhkan cinta. Namun realita kadang jauh bertolak belakang. Ada beberapa bahkan banyak pasangan yang belum berbuat banyak di malam pertamanya.  Meski sekedar bersentuhan tangan atau wajah. Ada rasa malu yang menggelegak tinggi. Membuat seluruh sendi serasa kaku dan tak mampu untuk digerakkan. Ada kisah nyata yang lebih parah lagi, sebulan paska walimah, jauh melewati malam pertamanya, ada suami istri yang belum pernah saling memeluk, mencium, dan yang lebih jauh lagi, atas nama rasa malu. Maka, apakah makna malu sebenarnya

Sesungguhnya tiada cela dalam rasa malu itu. Karena sejarah kita sebenarnya dipenuhi oleh orang-orang pemalu. Dalam Al-Quran, ingat calon istri Musa as yang berjalan penuh malu-malu saat hendak mengundang Musa as menemui ayahnya ? Allah swt berfirman : “ Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata : Sesungguhnya ayahku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak kami ) (QS Al-Qashash 25
Dalam sejarah kenabian, para sahabat menemukan kesan, bahwa Rasulullah saw adalah seorang yang pemalu. Dari Abu Said Al-Khudri, dia berkata ; “Nabi saw lebih pemalu dari gadis pingitan “ (HR Bukhori Muslim) . Lebih dekat lagi, sifat pemalu kita saksikan ada pada sosok Utsman bin Affan ra. Hingga Rasulullah saw pun menghargai rasa malu Utsman ra, dengan menutup kain pada kakinya, saat ia datang. Padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar ra bebas bercengkrama dengan beliau dalam keadaan terbuka kakinya.

Sesungguhnya tiada cela dalam rasa malu. Karena malu adalah bagian dari simbol keimanan kita.  Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya mengenai masalah malu. Lalu Rasulullah bersabda : Biarkanlah dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman ( HR Bukhori & Muslim I) . Lebih jauh lagi, Rasulullah saw pun bersabda mengenai rasa malu. Beliau mengatakan : “ Jika engkau tidak merasa malu, maka lakukan apa saja yang engkau kehendaki “ ( HR Bukhori) .  Dalam haditsnya yang lain, beliau saw menegaskan bahwa malu adalah bagian dari akhlak Islam. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya setiap agama itu ada akhlaknya, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR Ibnu Majah) . Semua dalil ini mengisyaratkan pada kita, bahwa rasa malu itu bukan sebuah aib yang tercela. Namun justru sebuah keadaan yang kita harus lekat daripadanya.

Maka wajar saja jika ada rasa malu yang muncul di malam pertama. Sosok asing pasti membuat jengah pada keadaan manapun. Ada pepatah arab yang mengatakan : Al Insaanu a’daa’un lima juhiluu. Bahwa seorang yang asing, akan cenderung untuk dimusuhi. Tidak jauh-jauh, khazanah sastra kita juga menyatakan : Tak kenal maka tak sayang.  Saat Anda belum banyak mengenal pasangan, kecuali lewat selembar biodata dan beberapa menit dialog ta’aruf, maka sesungguhnya dapat dipastikan akan ada rasa malu yang menghadang. Permasalahannya kemudian, apakah kita membiarkan rasa malu itu menghalangi kita dalam menikmati malam pertama kita ?

Jawabnya ; tidak sekali-sekali tidak. Biarkan rasa malu itu ada dan tetap pada tempatnya, namun jangan biarkan ia merusak keindahan malam pertama ini. Apalagi, jika kemudian rasa malu itu tetap bertahan hingga malam-malam selanjutnya. Hingga menghasilkan apa yang disebut masyarakat barat dengan virgin couple : wanita yang menikah tapi masih perawan! Ini sama sekali bertentangan dengan tujuan pernikahan, untuk menghalalkan kemaluan dengan penuh keberkahan. Masih ingat, bukankah saat maghrib menjelang,  maka orang yang berpuasa dianjurkan untuk segera berbuka ? Meski sebenarnya ia masih kuat menahan lapar hingga jauh selepas Isya’ ?

Malam ini tiada bermakna rasa malu yang mengganggu. Seorang perawan saja – yang biasanya malu-malu bak gadis pingitan- justru malah punya potensi besar untuk diajak bermesraan sejak hari pertamanya. Rasulullah saw tahu persis akan hal ini. Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah saw mengomentari pernikahannya dengan seorang janda : Mengapa tidak seorang perawan (yang engkau kawini) ? sehingga engkau bisa bermain dengannya dan ia juga bisa bermain denganmu.  (HR Bukhori Muslim) . Lihatlah wahai para pengantin baru, para perawan dan bujangan yang meragu, malam ini saatnya untuk bermain-main dalam mesra. Bukan saatnya untuk malu-malu.
*cuplikan dari buku Penulis : Muhammad SAW the Inspiring Romance


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/cara-mengatasi-rasa-malu-di-malam-pertama.html'>http://ayonikah.net/cara-mengatasi-rasa-malu-di-malam-pertama.html</a>

Inilah 3 Hadits Keutamaan Suami Istri yang Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

Dalam Islam, berkeluarga bukanlah sekedar mengejar kebahagiaan dunia dan memenuhi kebutuhan biologis. Lebih dari itu, keluarga di dalam Islam juga berfungsi sebagai penguat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah satu bentuk ketaatan yang didorong untuk bisa dilakukan suami istri adalah saling membangunkan untuk shalat tahajud. Jika hal ini bisa dilakukan, ada keutamaan yang menanti suami istri.
#http://www.bersamadakwah.com/2014/01/3-hadits-keutamaan-suami-istri-yang.html
Berikut ini 3 hadits yang menerangkan keutamaan suami istri yang saling membangunkan untuk shalat malam (tahajud) :

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ رَشَّ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى رَشَّتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah memberi rahmat seorang laki-laki yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan isterinya kemudian shalat. Jika isterinya enggan ia memercikkan air di wajahnya. Dan semoga Allah memberi rahmat seorang wanita yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan suaminya kemudian shalat. Jika suaminya enggan ia memercikkan air di wajahnya.”
(HR. Ibnu Majah)

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Allah akan merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya, dan Allah akan merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Hadits kedua ini sangat mirip dengan hadits pertama. Sama-sama dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sama-sama menjelaskan keutamaan suami istri yang saling membangunkan untuk shalat malam akan mendapatkan rahmat (kasih sayang) dari Allah. Yang membedakan hanya kalimat “rasysya” dan “nadlaha”, yang menurut sebagian ulama kedua hadits ini adalah hadits yang sama.
Pada kedua hadits tersebut juga terdapat kunci cinta suami istri. Bahwa jika suami istri ingin hidup saling mencintai dan saling berkasih sayang, hendaklah mereka saling membangunkan untuk shalat tahajud, sebab Allah akan melimpahkan rahmat (kasih sayang) kepada keduanya dan dengannya keduanya akan saling merahmati, saling menyayangi, saling mencintai.
Sedangkan hadits ketiga berikut ini menjelaskan keutamaan lainnya. Bahwa suami istri yang saling membangunkan untuk shalat malam, meskipun mereka hanya sempat melaksanakan dua rakaat, mereka dicatat Allah sebagai hamba-hamba yang selalu mengingat Allah.

مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu mengingat Allah Ta’ala.” (HR. Abu Daud)
Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]


Baca klik <a href='http://ayonikah.net/inilah-3-hadits-keutamaan-suami-istri-yang-saling-membangunkan-untuk-shalat-malam.html'>http://ayonikah.net/inilah-3-hadits-keutamaan-suami-istri-yang-saling-membangunkan-untuk-shalat-malam.html</a>

Monday, April 21, 2014

TAHAPAN PERSIAPAN PERNIKAHAN

6-12 Bulan Sebelum Hari-H
  1. Tetapkan hari dan tanggal pernikahan
  2. Tentukan anggaran dan gaya pernikahan yang diinginkan
  3. Tentukan jumlah tamu yang akan diundang
  4. Pesan tempat untuk resepsi
  5. Buat daftar tamu
  6. Tentukan pengiring wanita, pengiring pria dan pengiring-pengiring lainnya
  7. Temui dan kunjungi desainer, tentukan dan pilih gaun pengantin
  8. Pilih dan pesan catering
  9. Putuskan tujuan honeymoon, lakukan pemesanan tempat dan transportasi
 
4-5 Bulan Sebelum Hari-H
  1. Selesaikan daftar tamu
  2. Hubungi pastur / pendeta, tentukan waktu dan tempat pemberkatan
  3. Pilih dan pesan kartu undangan
  4. Tentukan tema warna gaun yang akan dikenakan serta bunga-bunga dekorasi
  5. Beritahukan kepada Ibu dan calon mertua agar mereka merencanakan gaun yang akan dikenakan sesuai dengan tema warna yang dipilih
  6. Pilih dan beli/sewa gaun untuk pengiring pengantin wanita
  7. Pilih jas untuk pengantin pria dan pengiringnya
  8. Pilih dan tentukan dekorasi pelaminan / ruang pesta
  9. Pilih dan hubungi photographer, baik untuk studio, liputan danvideo
  10. Pilih dan pesan kendaraan pengantin dan panitia
  11. Pilih dan pesan kue pengantin
  12. Booking MC dan music pengiring
  13. Pesan cincin kawin
2-3 Bulan Sebelum Hari-H
  1. Ambil formulir pendaftaran pernikahan, dan siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan
  2. Lakukan pengecekan kesehatan pra-nikah
  3. Konfirmasikan honeymoon (buat paspor bila perlu)
  4. Hubungi desainer untuk waktu mengepas gaun
6-8 Minggu Sebelum Hari-H
  1. Tulis dan atur pengiriman undangan
  2. Selesaikan menu makanan dengan pihak catering
  3. Pesan minuman anggur untuk resepsi jika dikehendaki
  4. Siapkan bingkisan untuk para pengiring
  5. Kunjungi penata rambut, putuskan model yang diinginkan.Booking untuk hari pernikahan.
  6. Lakukan test make-up
  7. Tentukan musik pengiring pernikahan, konsultasikan dengan MC dan pemain musik
4-5 Minggu Sebelum Hari-H
  1. Kirim kartu undangan
  2. Ambil pesanan cincin kawin, pastikan grafir inisialnya benar
  3. Pesan traveller cheque/mata uang asing untuk honeymoon
2-3 Minggu Sebelum Hari-H
  1. Susun jadwal acara pernikahan, gandakan dan berikan masing-masing: keluarga pengantin, para pengiring, panitia, supir, petugas photo dan video
  2. Konfirmasikan jumlah undangan dan hal-hal lain yang diinginkan kepada pengurus gedung dan catering
  3. Konfirmasikan semua pesanan dan detail untuk bunga, sewa kendaraan, photographer, dekorasi, kue, mobil, pemain musik dan lainnya.
  4. Mencoba gaun pengantin lengkap dengan aksesorisnya.
  5. Periksa ukuran, kenyamanan dan lainnya, bila ada yang harus disempurnakan. Biasakan menggunakan sepatu yang akan digunakan di hari pernikahan agar terasa lebih nyaman
  6. Siapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah baru
  7. Lakukan facial dan lulur ke ahlinya.
1 Minggu Sebelum Hari-H
  1. Bersantailah, yakinkan semuanya akan beres
  2. Berkemas untuk honeymoon, lengkapi dan beli kebutuhan-kebutuhan yang muncul belakangan
  3. Konfirmasikan sekali lagi semua pesanan yang telah dilakukan, sekedar untuk mengingatkan
sumber:resep.web.id